Senja
bergulir, waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB, anak –anak kelas XI IPA 1 SMA
Yudhistira baru saja menyelesaikan tugasnya. Sore itu, mereka memiliki jadwal
latihan upacara untuk tampil senin depan. Persiapan mereka kali itu sudah
matang, karena mereka telah latihan berulang-ulang. Hingga sore menjelang,
akhirnya mereka memutuskan untuk menyelesaikannya dan kembali ke rumahnya
masing-masing.
Riani,
kali itu berjalan menuju gerbang sekolah, disanalah tempatnya menunggu angkutan
umum untuk kembali ke rumahnya, jarak dari sekolah Riani ke rumahnya sangat
jauh, butuh tiga kali perjalanan naik angkutan umum. Sesaat ketika ia menunggu.
“Rian,
duluan yaa..” ucap salahsatu sobat karibnya, Avi yang dibonceng seseorang yang
sempat ada di hati Riani.
“eh
iyaa, Vi, hati-hati yaa..” jawabnya ikhlas, dan Avi pun berlalu dengan orang
itu.
Tiba-tiba
ada salahsatu motor yang berlalu di depan Riani, motor berplat nomor B 4578 VQ,
Riani hanya memandangi plat nomor itu, dan berusaha mengetahui siapa
pengendaranya, tapi dia tetap berlalu tanpa ada kata-kata yang tertinggal atau
mungkin ucapan “duluan yaa..”, tidak ada sama sekali.
Riani tetap menunggu angkutan umumnya, tapi
kurang lebih 20 menit ia menunggu tak kunjung satupun angkutan umum yang lewat,
Riani mulai bosan. Dan haripun semakin sore.
“Yah,
angkotnya mana nih ah..” ucapnya sambil melihat ke arah jam tangannya yang
menunjukan pukul 17.40. Namun setelah beberapa saat, pengendara motor itu
kembali lagi.
“B
4578 VQ?” ucapnya dalam hati.
“Udah
sore nih, ngga pulang? Nunggu dijemput ya? Ujar pengendara itu. Ternyata dia
adalah Adli, si pemimpin upacara.
“Eh?
Engga, eh iyaa deng nunggu dijemput angkot.. perasaan tadi udah pulang, kok
balik lagi kesini?” balasnya singkat.
“Ohh,
yaudah ayo aku anter pulang..”
“Nggak
usah, tuh angkotnya udah di ujung jalan, makasih yaa..”
Riani
pun menolak ajakan Adli untuk dia antar pulang, Adli hanya terpaku melihat
Riani yang menaiki angkot, sambil tersenyum ke arahnya. Namun dalam hati Adli
bersedih, karena diam-diam dia menyukai Riani.
Angkutan
umum terus menyusuri jalan-jalan untuk menuju tujuannya, namun di tengah jalan
Riani mendapat masalah lain, angkutan umum yang dinaikinya mogok dan semakin
memperpanjang waktunya di jalan. Dan sayangnya waktu semakin malam. Riani tetap
menunggu adakalanya mobil angkutannya bisa kembali seperti semula. Tapi itu
lama sekali. Dan akhirnya.
“pak,
bu, neng, maaf naik angkot yang belakang aja yaa..”
Riani
kaget dan mengeluh saat sopir berkata seperti itu, tapi ia juga tidak bisa
apa-apa, dengan terpaksa ia dan penumpang lain keluar dari angkutan itu. Riani
tidak suka menunggu lama-lama, akhirnya ia tetap berjalan sambil menunggu
angkutan umum yang lewat. Jalan yang ditempuh Riani masih cukup jauh untuk
sampai di tempat ia menaiki angkutan umum yang kedua.
Riani
sudah berjalan cukup jauh, namun kembali lagi, tidak ada satupun angkutan umum
yang lewat, ia bingung, sementara waktu sudah menunjukkan pukul 19.15, ia tetap
terus berjalan. Tetapi karena sudah gelap, langit yang mendung tidak diketahui
oleh Riani, sampai pada akhirnya rintik-rintik hujan pun turun, hingga menjadi
hujan yang cukup deras.
“Rianiiii!!!”
teriak salahsatu suara dari belakangnya.
Suara
itu datang dari salah satu motor yang lewat, pengendara motor itu kemudian
memarkirkan motornya di depan Riani.
“B
4578 VQ?”
“ADLI??”
“Kamu
udah gila ya? Kamu tau ini apa? Ini hujan, Ri!” ucap Adli sambil menarik tangan
Riani menuju tempat berteduh terdekat.
“Aku
harus cepet pulang, ini udah terlalu malam, ibuku pasti akan marah kalo aku
pulang kemalaman, Dli.”
“Tapi
ngga gini juga kan sampai kamu harus hujan-hujanan nunggu angkot?”
Riani
hanya terdiam, hujan yang turun saat itu cukup deras dan lumayan lama, mereka
akhirnya menunggu di tempat itu, sampai akhirnya ada satu angkutan umum yang
lewat. Riani bergegas naik ke angkutan itu.
“Eh
itu ada angkot alhamdulillah, aku duluan ya, kamu pulang sana..”
“Loh?
Udah tunggu hujan reda, nanti aku anter, Ri.”
“Engga
usah, hujan reda masih lama kayaknya, kamu nunggu aja, aku duluan yaa, makasih
banyak Dli.”
“Oh
yaudah deh, iya sama-sama, Ri”
Riani,
menaiki angkutan umumnya, sementara Adli bergegas pula menaiki motornya dan
yang tak Riani kira, Adli mengikutinya, padahal hujan masih cukup deras. Riani
belum menyadari hal itu tapi akhirnya ia melihat ke arah belakang, seseorang
dengan helm yang gelap tanpa pelindung, kecuali jaketnya yang sudah basah.
“B
4578 VQ?”
“Ya
Allah, ngapain dia ngikutin aku?” ucapnya sambil tak mengira dan memandang Adli
yang saat itu kehujanan dengan heran dan khawatir.
Adli
membuka kaca helmnya, dan tersenyum manis pada Riani, Riani terharu, padahal ia
belum terlalu mengenali Adli, tapi dia sudah begitu baik padanya, Adli rela
hingga kehujanan tapi yang terpenting baginya Riani sampai rumah dengan
selamat. Dan Adli pun mengikuti Riani sampai ujung gang rumahnya. Seraya
tersenyum dan meninggalkannya.
Riani
tersenyum, “Terima kasih banyak B 4578 VQ.. "
Tidak ada komentar:
Posting Komentar