Selasa, 24 April 2012

CERPEN : B 4578 VQ


                Senja bergulir, waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB, anak –anak kelas XI IPA 1 SMA Yudhistira baru saja menyelesaikan tugasnya. Sore itu, mereka memiliki jadwal latihan upacara untuk tampil senin depan. Persiapan mereka kali itu sudah matang, karena mereka telah latihan berulang-ulang. Hingga sore menjelang, akhirnya mereka memutuskan untuk menyelesaikannya dan kembali ke rumahnya masing-masing.
                Riani, kali itu berjalan menuju gerbang sekolah, disanalah tempatnya menunggu angkutan umum untuk kembali ke rumahnya, jarak dari sekolah Riani ke rumahnya sangat jauh, butuh tiga kali perjalanan naik angkutan umum. Sesaat ketika ia menunggu.
                “Rian, duluan yaa..” ucap salahsatu sobat karibnya, Avi yang dibonceng seseorang yang sempat ada di hati Riani.
                “eh iyaa, Vi, hati-hati yaa..” jawabnya ikhlas, dan Avi pun berlalu dengan orang itu.
                Tiba-tiba ada salahsatu motor yang berlalu di depan Riani, motor berplat nomor B 4578 VQ, Riani hanya memandangi plat nomor itu, dan berusaha mengetahui siapa pengendaranya, tapi dia tetap berlalu tanpa ada kata-kata yang tertinggal atau mungkin ucapan “duluan yaa..”, tidak ada sama sekali.
                  Riani tetap menunggu angkutan umumnya, tapi kurang lebih 20 menit ia menunggu tak kunjung satupun angkutan umum yang lewat, Riani mulai bosan. Dan haripun semakin sore.
                “Yah, angkotnya mana nih ah..” ucapnya sambil melihat ke arah jam tangannya yang menunjukan pukul 17.40. Namun setelah beberapa saat, pengendara motor itu kembali lagi.
                “B 4578 VQ?” ucapnya dalam hati.
                “Udah sore nih, ngga pulang? Nunggu dijemput ya? Ujar pengendara itu. Ternyata dia adalah Adli, si pemimpin upacara. 
                “Eh? Engga, eh iyaa deng nunggu dijemput angkot.. perasaan tadi udah pulang, kok balik lagi kesini?” balasnya singkat.
                “Ohh, yaudah ayo aku anter pulang..”
                “Nggak usah, tuh angkotnya udah di ujung jalan, makasih yaa..”
                Riani pun menolak ajakan Adli untuk dia antar pulang, Adli hanya terpaku melihat Riani yang menaiki angkot, sambil tersenyum ke arahnya. Namun dalam hati Adli bersedih, karena diam-diam dia menyukai Riani.
                Angkutan umum terus menyusuri jalan-jalan untuk menuju tujuannya, namun di tengah jalan Riani mendapat masalah lain, angkutan umum yang dinaikinya mogok dan semakin memperpanjang waktunya di jalan. Dan sayangnya waktu semakin malam. Riani tetap menunggu adakalanya mobil angkutannya bisa kembali seperti semula. Tapi itu lama sekali. Dan akhirnya.
                “pak, bu, neng, maaf naik angkot yang belakang aja yaa..”
                Riani kaget dan mengeluh saat sopir berkata seperti itu, tapi ia juga tidak bisa apa-apa, dengan terpaksa ia dan penumpang lain keluar dari angkutan itu. Riani tidak suka menunggu lama-lama, akhirnya ia tetap berjalan sambil menunggu angkutan umum yang lewat. Jalan yang ditempuh Riani masih cukup jauh untuk sampai di tempat ia menaiki angkutan umum yang kedua.
                Riani sudah berjalan cukup jauh, namun kembali lagi, tidak ada satupun angkutan umum yang lewat, ia bingung, sementara waktu sudah menunjukkan pukul 19.15, ia tetap terus berjalan. Tetapi karena sudah gelap, langit yang mendung tidak diketahui oleh Riani, sampai pada akhirnya rintik-rintik hujan pun turun, hingga menjadi hujan yang cukup deras.
                “Rianiiii!!!” teriak salahsatu suara dari belakangnya.
                Suara itu datang dari salah satu motor yang lewat, pengendara motor itu kemudian memarkirkan motornya di depan Riani.
                “B 4578 VQ?”
                “ADLI??”
                “Kamu udah gila ya? Kamu tau ini apa? Ini hujan, Ri!” ucap Adli sambil menarik tangan Riani menuju tempat berteduh terdekat.
                “Aku harus cepet pulang, ini udah terlalu malam, ibuku pasti akan marah kalo aku pulang kemalaman, Dli.”
                “Tapi ngga gini juga kan sampai kamu harus hujan-hujanan nunggu angkot?”
                Riani hanya terdiam, hujan yang turun saat itu cukup deras dan lumayan lama, mereka akhirnya menunggu di tempat itu, sampai akhirnya ada satu angkutan umum yang lewat. Riani bergegas naik ke angkutan itu.
                “Eh itu ada angkot alhamdulillah, aku duluan ya, kamu pulang sana..”
                “Loh? Udah tunggu hujan reda, nanti aku anter, Ri.”
                “Engga usah, hujan reda masih lama kayaknya, kamu nunggu aja, aku duluan yaa, makasih banyak Dli.”
                “Oh yaudah deh, iya sama-sama, Ri”
                Riani, menaiki angkutan umumnya, sementara Adli bergegas pula menaiki motornya dan yang tak Riani kira, Adli mengikutinya, padahal hujan masih cukup deras. Riani belum menyadari hal itu tapi akhirnya ia melihat ke arah belakang, seseorang dengan helm yang gelap tanpa pelindung, kecuali jaketnya yang sudah basah.
                “B 4578 VQ?”
                “Ya Allah, ngapain dia ngikutin aku?” ucapnya sambil tak mengira dan memandang Adli yang saat itu kehujanan dengan heran dan khawatir.
                Adli membuka kaca helmnya, dan tersenyum manis pada Riani, Riani terharu, padahal ia belum terlalu mengenali Adli, tapi dia sudah begitu baik padanya, Adli rela hingga kehujanan tapi yang terpenting baginya Riani sampai rumah dengan selamat. Dan Adli pun mengikuti Riani sampai ujung gang rumahnya. Seraya tersenyum dan meninggalkannya.
                Riani tersenyum, “Terima kasih banyak B 4578 VQ.. "

Tidak ada komentar:

Posting Komentar