Sabtu, 30 Juli 2011

Aku

Sepi ini adalah hati kecil yang berguguran layu
diatas rongga hembusan nafasku
tumpukan darah
membiaskan seuntai semangat membiru
aku dan inginku
bersama-sama merindukanmu

Hujan berambisi menelan takdirku
gerangan angin sampaikan paradigma sukmaku
Hingga penghujung raungan malam 
aku dan nafasku
kan tetap merindukanmu


Apa arti sebuah kekaguman?

Jemari tanganmu hadir diatas batas kelemahanku
buaian senyummu yang merekah menari-nari diatas selembar anganku
gejolak kekuatan cintaku menghalangi masuk segala keburukanmu

Tapi apalah arti sebuah kekaguman
yang hanya mampu tersimpan dalam rengkuhan
sulit untuk dikeluarkan
dalam wujud sebuh pengakuan
ia terlalu menderita bila menerima cobaan
andai saja kau dapat merasakan

Gemulai Mentari Pagi

Seberkas cahaya menggantikan gulitanya malam
bintang dan bulan kembali pulas tertidur
untuk jaga malamnya esok
jangkrik-jangkrik memberhentikan jerit cicitannya
untuk bangun dan bersiap
demi terciptanya suatu pagi

Sepetik Pintaku

Tuhan
jika aku dapat menggapai hari
kan kusambut cinta pagi yang mengudara di samping embun
kala esok memanggilku

Tuhan
Jika aku dapat meraih hari esok
kan kupadukan hasrat dan inginnya jiwa 
untuk bersama-sama menyebut Asma-Mu

Tuhan
Jika aku dapat meraih lusa dan esok-esok penjelangnya
kan kubisikkan suara hati yang tak henti 
mengalunkan nada-nada indah-Mu
 

Cinta di Sore Hari

Gerimis ini menampakkan rintik dukaku
karena langit itu membicarakan kejelekanku
biarlah kutepis tajam caranya
karena kupunya hidup yang mengerti
bagaimana membalas dengan cinta
walau terus menerjangku
walau terus membasahiku
dan membebaniku
 kan kujadikannya seuntai kata
pemerhati.
 

Tersuduti Mati

Bila cahaya meredup
berkunang melewati mata
aku hidup bersama dinding dingin
tempat bersandar walau tak dapat merasa 
aku hidup bukan untuk menangis 
bukan untuk tersuduti caci
alam binasakanku menjadi mati
terkurung gelap dalam sisi sisi kecil
tiada satupun yang kan pahami
terlelap
untuk tersuduti mati

Dibalik Pintu Pemuram

Aku mengisi menit kesendirianku
Dibalik pintu pemuram
Sudut-sudut sempitnya mengajarkanku bercengkrama
Dengan waktu aku mengisi kisah pagi hingga sore menjelang
Ruang ini sahabatku
Temanku berbagi semua jalan hidup yang bersamanya aku tentang
Dibawah langit-langit yang bukan pencakar langit ini
Aku menyimpan siapa aku sebenarnya
Tak ada yang mengetahui
Kecuali Tuhan,
Dinding-dinding rapuh,
Serta benda-benda mati yang seolah bagiku hidup
Aku memiliki banyak cinta
Dibalik pintu pemuram itu
Cinta yang tak ku temui
Di sisi lain pintu pemuram itu.