Beragam nada canda tawa tercipta akibat keisengan kecil yang naratif itu
Berbagai cerita prosa imajinatif terangkai oleh tingkah-tingkah peran di dalam panggung keakraban itu
Bermacam cinta, ups! cinta apa ya?
Mungkin cinta fana yang tak terendus wewangian keadaan yang bertolak dimensi
Dan ruang balok ini seolah menjadi sahabat sehari-hari
Untuk bersama-sama menuntut ilmu yang terkadang juga menangis bersama bangku-bangku
dan meja-meja penopang harapan
Apabila waktu menuntut ilmu berganti untuk ditinggalkan
Mereka merindukan semangat-semangat kita
Pekerjaan mereka untuk menahan berat tubuh dengan ikhlas
Dan canda tawa yang ikut mereka dengar
Namun kini waktu berjalan begitu lihainya
Bagai ekskalator masa yang berarus kuat dan menyingkap derai siapa waktu
Bahkan di setiap roda pengatur jalannya
Terurai jelas apa makna hidup yang padahal sempit ini
Hanya kenangan berbahan sintetislah yang selalu teringat
Terpaku kuat dalam sudut otak kanan setiap insan yang pernah merasakannya
Wahai guru-guru pembina martabat
Terkadang kami merasa begitu licin dan terlalu larut dalam kerendahan jalan fikiran ini
Sehingga kami mudah tergelincir dalam amarahmu
Membiarkan waktu terbuang sia untuk pola tingkah yang tak pantas duduk diatas bangku itu
Entah apa termemori atau tidak
Tetap Kau adalah lampu penerang bagi masa depan kami
Berdaya kuat dan takkan habis terjamah waktu