Sabtu, 31 Desember 2011

JIKA CINTA MEMBAWA KITA

Berbeda, tak punya arti sebagai pembuat kelemahan dan itu tabu
Heran, mengapa mereka berputar-putar bersama waktu ditempat yang sama
Apakah ini cerita baru? Atau pemusing fikiran disamping cerita-cerita sebelumnya?
Cuma satu, saat mengetahui takdir akan membawa kita berarti

Dengan rencana sesuai yang diinginkan, aku membatu
Saat berhadapan dengan seseorang yang saat ini dimataku berbeda
Ingin dan terus ingin menjadi sesuatu yang mampu mempengaruhi langkah kakimu
Semoga mampu, dan bersabarlah bersama waktu

Kau adalah lagu favoritku, ya, benar!.
Tapi jangan berhenti untuk terus melantunkannya, setiap suaramu yang setiap hari kudengar
Argh! tapi benci saat kita harus bersilang jalan
Dan kembali harus terus dan menerus bersabar bersama waktu

Setiap kali kau terdapat di ujung penglihatanku, apa yang harus kulakukan?
Membisu? Menangis? Atau apalah kelakuan bodohku yang lain
Yang setiap kali keluar tanpa kendaliku
Tapi tetap kau membuatku terus indah saat apapun ketika kau melihatku dengan sederhana

Kemarin dan sebuah rahasia, itulah takdir awal ini
Saat aku disini dan kau disana yang sedang menjadi pesona
Aku biasa dan kau lebih dari biasa tapi mampu menjadi diantaranya
Aku bergumam, entah sepertinya ikut terpesona

Siapakah kita saat ini? Tak ada yang mengerti kemarin
Biarkanlah terus melangkah bersama cinta yang kita bawa
Aku menyayangimu, dan dunia disekelilingku pun juga
Jika cinta membawa kita, bawalah hingga akhir nanti
  

PELANGI DI JINGGA HORIZON


"Love’s poem influenced  by astronomi"

Fase bulan purnama di selisih sabit mengubah jalanku

Untuk mencintai sebuah Sirius yang memiliki magnitudo mutlak bukan tampak

Kau dan aku bertemu di ekliptika, memotong jarak layaknya perihelion

Dan membentuk konstelasi sebagaimana ursa mayor dalam galaksi hatimu

Di kutub utara, kau adalah Polaris yang tersenyum, dan ku melihatmu melalui zenithku

Tak terbayang dengan jauhnya parsek, tetap nebula-nebula yang menghias di gelapnya malam ini adalah rinduku padamu

Bintang dengan luminositas tinggi, pulsar yang berkelap-kelip mengikuti hari yang berarti indahnya saat waktu mengizinkan kita bersama

Tanpa deklinasi yang menjauhkan kita

Tanpa konjungsi yang membuat kita berpandangan diantara jarak

Argh ingin sekali kehilangan prominensa, dan melenyapkannya bagai supernova!

Dan menghadirkan pelangi di jingga horizonku

Terbang bersama halley dan menemui Jupiter, “ hai! Apakah cintanya secemerlang dirimu?” 

Dan semoga ia menjawab  “ tidak, cintanya tidak secemerlang diriku, dia adalah Sirius”

Apakah kau tau? Aku adalah titan, sesuatu paling setia untuk saturnus

Meskipun angin matahari mencoba menumbangkanku

Dengan medan magnetik yang mengacaukan kesetiaanku

Tetap kan berdiri, menatapi meteor yang semoga jatuh di hatimu

Dan jagalah itu, seperti bimasakti tetap berusaha menjaga bintang bintang didalamnya

10 Tanya Mengapa



1. Mengapa memandang sama orang lain padahal semua orang itu berbeda?

2. Mengapa menjadi diri orang lain padahal sesungguhnya diri kita itu lebih baik?

3. Mengapa menjadi pendendam padahal sebenarnya kita mampu menjadi orang yang sabar dan lebih ikhlas?

4. Mengapa begitu serius padahal dunia ini begitu indah jika dinikmati?

5. Mengapa takut akan perpisahan padahal semua itu pasti terjadi dan tak bisa dipungkiri lagi?

6. Mengapa harus memendam perasaan padahal jujur itu lebih baik walau terkadang pahit rasanya?

7. Mengapa menunda pekerjaan padahal bisa mengerjakannya hari ini?

8. Mengapa terkadang kita terlalu banyak menebar wajah ‘jutek’ padahal senyum itu ibadah?

9. Mengapa banyak alasan untuk mengeluarkan uang tapi tidak banyak untuk urusan menabung?

10. Mengapa sulit melupakan kenangan bersama ‘the ex’ padahal orang-orang sekelilingmu adalah yang paling banyak memberi kenangan?