"Love’s poem influenced
by astronomi"
Fase bulan purnama di selisih sabit mengubah jalanku
Untuk mencintai sebuah Sirius yang memiliki magnitudo mutlak bukan tampak
Kau dan aku bertemu di ekliptika, memotong jarak layaknya perihelion
Dan membentuk konstelasi sebagaimana ursa mayor dalam galaksi hatimu
Di kutub utara, kau adalah Polaris yang tersenyum, dan ku melihatmu melalui zenithku
Tak terbayang dengan jauhnya parsek, tetap nebula-nebula yang menghias di gelapnya malam ini adalah rinduku padamu
Bintang dengan luminositas tinggi, pulsar yang berkelap-kelip mengikuti hari yang berarti indahnya saat waktu mengizinkan kita bersama
Tanpa deklinasi yang menjauhkan kita
Tanpa konjungsi yang membuat kita berpandangan diantara jarak
Argh ingin sekali kehilangan prominensa, dan melenyapkannya bagai supernova!
Dan menghadirkan pelangi di jingga horizonku
Terbang bersama halley dan menemui Jupiter, “ hai! Apakah cintanya secemerlang dirimu?”
Dan semoga ia menjawab “ tidak, cintanya tidak secemerlang diriku, dia adalah Sirius”
Apakah kau tau? Aku adalah titan, sesuatu paling setia untuk saturnus
Meskipun angin matahari mencoba menumbangkanku
Dengan medan magnetik yang mengacaukan kesetiaanku
Tetap kan berdiri, menatapi meteor yang semoga jatuh di hatimu
Dan jagalah itu, seperti bimasakti tetap berusaha menjaga bintang bintang didalamnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar