Sabtu, 31 Desember 2011

PELANGI DI JINGGA HORIZON


"Love’s poem influenced  by astronomi"

Fase bulan purnama di selisih sabit mengubah jalanku

Untuk mencintai sebuah Sirius yang memiliki magnitudo mutlak bukan tampak

Kau dan aku bertemu di ekliptika, memotong jarak layaknya perihelion

Dan membentuk konstelasi sebagaimana ursa mayor dalam galaksi hatimu

Di kutub utara, kau adalah Polaris yang tersenyum, dan ku melihatmu melalui zenithku

Tak terbayang dengan jauhnya parsek, tetap nebula-nebula yang menghias di gelapnya malam ini adalah rinduku padamu

Bintang dengan luminositas tinggi, pulsar yang berkelap-kelip mengikuti hari yang berarti indahnya saat waktu mengizinkan kita bersama

Tanpa deklinasi yang menjauhkan kita

Tanpa konjungsi yang membuat kita berpandangan diantara jarak

Argh ingin sekali kehilangan prominensa, dan melenyapkannya bagai supernova!

Dan menghadirkan pelangi di jingga horizonku

Terbang bersama halley dan menemui Jupiter, “ hai! Apakah cintanya secemerlang dirimu?” 

Dan semoga ia menjawab  “ tidak, cintanya tidak secemerlang diriku, dia adalah Sirius”

Apakah kau tau? Aku adalah titan, sesuatu paling setia untuk saturnus

Meskipun angin matahari mencoba menumbangkanku

Dengan medan magnetik yang mengacaukan kesetiaanku

Tetap kan berdiri, menatapi meteor yang semoga jatuh di hatimu

Dan jagalah itu, seperti bimasakti tetap berusaha menjaga bintang bintang didalamnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar