Kamis, 26 April 2012

Tukang Grafis II


HAPPY GIRLY
Designed by : Arini Maulidia
Twitter : @arineyow
blog : maulidiaarini.blogspot.com

Sekilas mengenai Desain Komunikasi Visual ITB

Desain Komunikasi Visual adalah cabang ilmu desain yang mempelajari konsep komunikasi dan ungkapan kreatif, teknik dan media dengan memanfaatkan elemen-elemen visual ataupun rupa untuk menyampaikan pesan untuk tujuan tertentu (tujuan informasi ataupun tujuan persuasi yaitu mempengaruhi perilaku).

Seorang Sarjana Desain Komunikasi  Visual harus bisa mengolah pesan tersebut secara efektif, informatif dan komunikatif. Mengembangkan bentuk bahasa visual (bermain gambar), mengolah pesan (bermain kata), keduanya untuk tujuan sosial maupun komersial, dari individu atau kelompok yang ditujukan kepada kelompok lainnya. Visual berwujud kreatif dan inovatif, sementara inti pesan harus komunikatif, efisien dan efektif saling mendukung agar tersampaikan dengan baik pada sasaran.

Setelah melalui berbagai mata kuliah dasar komunikasi visual, pada semester enam, Kamu akan dijuruskan pada 3 jalur minat program studi, yaitu:  Komunikasi Grafis, Komunikasi Visual Periklanan,  Komunikasi Multimedia.

Komunikasi Grafis dan Komunikasi Visual Periklanan mengolah bahasa visual pada media statis  (diam). Kemampuan komunikasi, tipografi, ilustrasi, fotografi menjadi faktor yang harus dikuasai. Desainer Grafis mampu membuat logo, desain majalah atau surat kabar, rambu ,  kemasan, atau paket promosi produk dengan keahliannya tersebut. Desainer Iklan mampu bermain visual dengan menarik dan efisien untuk tujuan persuasi. Mengemas citra sebuah produk, program, atau kampanye dengan bahasa visual yang baik, yang bermuara pada perubahan perilaku sasaran yang dituju.

Komunikasi Multimedia mengarah pada media dinamis berbasis waktu dan suara (audio). Animasi, desain web, media interaktif hingga penyutradaraan film adalah contoh keahlian desainer multimedia. Dasar-dasar komunikasi visual teraplikasikan secara dinamis dalam karya multimedia.

7 Hal mengenai Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) ITB
1.       Punya inkubasi prodi game S1 yang terdiri dari mahasiswa dkv multimedia dan studio intermedia seni murni
2.       Satu-satunya dkv yang mempunyai penjurusan di tingkat akhirnya. KVP, design grafis, dan multimedia
3.       Dosen-dosennya kebanyakan merupakan akademisi senior/perintis di bidang komunikasi visual indonesia
4.       Alumninya banyak yang berprestasi internasional, contoh: Henricus Kusbiantoro (pernah kerja di studio grafis ternama di amerika)
5.       Karya-karya mahasiswa nya lebih banyak mempunyai cita rasa budaya indonesia
6.       Jaringan kerja setelah lulus sudah terbukti mantap!
7.       Belajar tentang warna hanya 2 kali pertemuan, berbeda dengan dkv universitas lain yang sampai 2 sks.


sumber : http://masukitb.com/c/1595

Selasa, 24 April 2012

Tukang Grafis



ACTUAL IMAGINATION
Designed by : Arini Maulidia
 Twitter : @arineyow
blog : maulidiaarini.blogspot.com

CERPEN : B 4578 VQ


                Senja bergulir, waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB, anak –anak kelas XI IPA 1 SMA Yudhistira baru saja menyelesaikan tugasnya. Sore itu, mereka memiliki jadwal latihan upacara untuk tampil senin depan. Persiapan mereka kali itu sudah matang, karena mereka telah latihan berulang-ulang. Hingga sore menjelang, akhirnya mereka memutuskan untuk menyelesaikannya dan kembali ke rumahnya masing-masing.
                Riani, kali itu berjalan menuju gerbang sekolah, disanalah tempatnya menunggu angkutan umum untuk kembali ke rumahnya, jarak dari sekolah Riani ke rumahnya sangat jauh, butuh tiga kali perjalanan naik angkutan umum. Sesaat ketika ia menunggu.
                “Rian, duluan yaa..” ucap salahsatu sobat karibnya, Avi yang dibonceng seseorang yang sempat ada di hati Riani.
                “eh iyaa, Vi, hati-hati yaa..” jawabnya ikhlas, dan Avi pun berlalu dengan orang itu.
                Tiba-tiba ada salahsatu motor yang berlalu di depan Riani, motor berplat nomor B 4578 VQ, Riani hanya memandangi plat nomor itu, dan berusaha mengetahui siapa pengendaranya, tapi dia tetap berlalu tanpa ada kata-kata yang tertinggal atau mungkin ucapan “duluan yaa..”, tidak ada sama sekali.
                  Riani tetap menunggu angkutan umumnya, tapi kurang lebih 20 menit ia menunggu tak kunjung satupun angkutan umum yang lewat, Riani mulai bosan. Dan haripun semakin sore.
                “Yah, angkotnya mana nih ah..” ucapnya sambil melihat ke arah jam tangannya yang menunjukan pukul 17.40. Namun setelah beberapa saat, pengendara motor itu kembali lagi.
                “B 4578 VQ?” ucapnya dalam hati.
                “Udah sore nih, ngga pulang? Nunggu dijemput ya? Ujar pengendara itu. Ternyata dia adalah Adli, si pemimpin upacara. 
                “Eh? Engga, eh iyaa deng nunggu dijemput angkot.. perasaan tadi udah pulang, kok balik lagi kesini?” balasnya singkat.
                “Ohh, yaudah ayo aku anter pulang..”
                “Nggak usah, tuh angkotnya udah di ujung jalan, makasih yaa..”
                Riani pun menolak ajakan Adli untuk dia antar pulang, Adli hanya terpaku melihat Riani yang menaiki angkot, sambil tersenyum ke arahnya. Namun dalam hati Adli bersedih, karena diam-diam dia menyukai Riani.
                Angkutan umum terus menyusuri jalan-jalan untuk menuju tujuannya, namun di tengah jalan Riani mendapat masalah lain, angkutan umum yang dinaikinya mogok dan semakin memperpanjang waktunya di jalan. Dan sayangnya waktu semakin malam. Riani tetap menunggu adakalanya mobil angkutannya bisa kembali seperti semula. Tapi itu lama sekali. Dan akhirnya.
                “pak, bu, neng, maaf naik angkot yang belakang aja yaa..”
                Riani kaget dan mengeluh saat sopir berkata seperti itu, tapi ia juga tidak bisa apa-apa, dengan terpaksa ia dan penumpang lain keluar dari angkutan itu. Riani tidak suka menunggu lama-lama, akhirnya ia tetap berjalan sambil menunggu angkutan umum yang lewat. Jalan yang ditempuh Riani masih cukup jauh untuk sampai di tempat ia menaiki angkutan umum yang kedua.
                Riani sudah berjalan cukup jauh, namun kembali lagi, tidak ada satupun angkutan umum yang lewat, ia bingung, sementara waktu sudah menunjukkan pukul 19.15, ia tetap terus berjalan. Tetapi karena sudah gelap, langit yang mendung tidak diketahui oleh Riani, sampai pada akhirnya rintik-rintik hujan pun turun, hingga menjadi hujan yang cukup deras.
                “Rianiiii!!!” teriak salahsatu suara dari belakangnya.
                Suara itu datang dari salah satu motor yang lewat, pengendara motor itu kemudian memarkirkan motornya di depan Riani.
                “B 4578 VQ?”
                “ADLI??”
                “Kamu udah gila ya? Kamu tau ini apa? Ini hujan, Ri!” ucap Adli sambil menarik tangan Riani menuju tempat berteduh terdekat.
                “Aku harus cepet pulang, ini udah terlalu malam, ibuku pasti akan marah kalo aku pulang kemalaman, Dli.”
                “Tapi ngga gini juga kan sampai kamu harus hujan-hujanan nunggu angkot?”
                Riani hanya terdiam, hujan yang turun saat itu cukup deras dan lumayan lama, mereka akhirnya menunggu di tempat itu, sampai akhirnya ada satu angkutan umum yang lewat. Riani bergegas naik ke angkutan itu.
                “Eh itu ada angkot alhamdulillah, aku duluan ya, kamu pulang sana..”
                “Loh? Udah tunggu hujan reda, nanti aku anter, Ri.”
                “Engga usah, hujan reda masih lama kayaknya, kamu nunggu aja, aku duluan yaa, makasih banyak Dli.”
                “Oh yaudah deh, iya sama-sama, Ri”
                Riani, menaiki angkutan umumnya, sementara Adli bergegas pula menaiki motornya dan yang tak Riani kira, Adli mengikutinya, padahal hujan masih cukup deras. Riani belum menyadari hal itu tapi akhirnya ia melihat ke arah belakang, seseorang dengan helm yang gelap tanpa pelindung, kecuali jaketnya yang sudah basah.
                “B 4578 VQ?”
                “Ya Allah, ngapain dia ngikutin aku?” ucapnya sambil tak mengira dan memandang Adli yang saat itu kehujanan dengan heran dan khawatir.
                Adli membuka kaca helmnya, dan tersenyum manis pada Riani, Riani terharu, padahal ia belum terlalu mengenali Adli, tapi dia sudah begitu baik padanya, Adli rela hingga kehujanan tapi yang terpenting baginya Riani sampai rumah dengan selamat. Dan Adli pun mengikuti Riani sampai ujung gang rumahnya. Seraya tersenyum dan meninggalkannya.
                Riani tersenyum, “Terima kasih banyak B 4578 VQ.. "

CERPEN : Mimpi di Sudut Perpustakaan


Tidak ada yang mengerti takdir, semua hanya ada di tangan Allah, tapi semua juga bergantung pada bagaimana keyakinan dan kepercayaan kita.
Olimpiade Astronomi tingkat kota Tangerang tinggal menghitung hari lagi. Persiapan 3 minggu yang dilakukan oleh Ami, hanya mengasah kemampuan teoritisnya saja mengenai pelajaran yang baru ia kenali 3 minggu yang lalu, sementara untuk materi astronomi matematika, astronomi fisika dan astronomi kimia hanya beberapa saja yang telah ia kuasai, dari bimbingan bersama pembinanya Pak Hamdi.
Ami memilih pelajaran astronomi sebagai bidang olimpiadenya karena ia sangat menyukai pelajaran tentang bumi dan Tata surya. Meskipun ia baru tahu kalau astronomi yang sebenarnya tidah hanya seperti itu.
Setelah 3 minggu bimbingan, banyak sekali yang ia pelajari, namun di sisi lain ia juga banyak mengeluh, bagaimana ia menghitung kapan bintang akan muncul besok jika ia datang jam 8 malam ini?, dengan apa ia menghitung berapa tinggi bayangan jam 2 siang jika tinggi bayangan jam 12 siang 170 cm? Bagaimana menghitung kecerahan bintang dengan jarak 2,5 parsek dari bumi hanya dengan rumus-rumus dasar di genggamannya? Sementara waktu tinggal 2 hari lagi? Dia hanya mengaduh.
“Ya ampun, ini soal kok ribet banget, besok bintang datang jam berapa? Bisa aja kan dia ngga datang, insya Allah aja ya jawabnya mendingan ckck.” Candanya sendiri.
Setiap hari Ami bertandang ke perpustakaan untuk mempelajari astronomi lebih dalam, ia juga banyak melakukan pencarian informasi di internet, yang membuatanya terkadang semakin menganga dengan pelajaran astronomi. Tapi Ami tetap yakin dengan kemampuannya, karena ia bertekad untuk masuk paling tidak 10 besar, ia ingin mengharumkan nama almamaternya, SMA CITRA BANGSA.
Tak terasa, olimpiade tinggal sehari lagi. Olimpiade itu akan diselenggarakan di SMA 1 Tangerang. Saat itu ia sedang membuka internet sembari membaca di perpustakaan.
“Cieee yang mau olimpiade, manteng terus nih di perpus hehehe.” Ucap Ghia yang kali itu datang ke perpustakaan.
“Eh, Ghia, hehe iya nih asyik aja lama-lama kalo dinikmati hehe.”
“Okee deh semangat yaa..”
Ami membalas dengan senyuman, jujur saja hatinya mulai berdebar dengan esok hari, tapi ia berusaha dengan maksimal dengan persiapan yang dilakukannya. Ia tetap harus yakin akan kemampuannya.
Tibalah hari itu, hari yang paling ia tunggu-tunggu, pelaksanaan olimpiade se-kota Tangerang. Dari awal ia bangun pagi sampai dia menginjak di SMA 1 Tangerang hatinya berdebar tak karuan terlebih melihat lawannya yang kebanyakan orang keturunan chinese, matanya sipit, kulitnya putih dan berkacamata, memang seperti itulah gambaran lawan-lawannya di benak Ami. Tapi Ami tetap yakin dan percaya diri.
Tepat jam 8 pagi olimpiade dimulai, dari 4 ruang yang diberikan untuk peserta olimpiade ia ditempatkan di ruang 2. Suasana hening, dan semua sibuk dengan soal soalnya, termasuk Ami, ia mengerjakan dengan teliti meski tetap saja ada soal yang  tak ia mengerti.
Hitunglah massa blackhole jika radius Schwarzschildnya 30 km!
“Subhanallah, ini pelajaran, benar-benar sampai harus menghitung yang di ujung dunia kayaknya ckckck..”  rintihnya dalam hati.
Meskipun begitu Ami tetap dapat mengerjakan soalnya dengan tenang, waktu yang digunakan untuk mengerjakan soal 3 jam, dan Ami pun dapat menyelesaikannya tepat pada waktunya. Dan ia keluar ruangan dengan sedikit lesu, seperti habis bekerja berat.
“Pak, apapun hasilnya Ami sudah berusaha yaa.”
“Iya nak, kalah menang itu nomor kesekian, yang penting bagaimana kamu mampu mengambil pengalaman dan pelajaran dari sini.” Jawan Pak Hamdi bijak.
Pengumuman dilakukan pada hari itu juga, Ami menunggu dengan cemas. Apakah ia dapat mencapai keinginannya masuk 10 besar. Semoga saja.
Tibalah saat saat pengumuman diberitahukan. Pengumuman pemenang diumumkan melalui selebaran kertas berisi daftar nama pemenang. Ami terlihat pemisis saat mengetahui namanya tidak ada dari urutan 10 sampai 4, tapi  nama di peringkat 2 mengejutkannya.
Peringkat
Nama Peserta
Asal Sekolah
1
Budi Purnomo .R
SMA 5 TANGERANG
2
Nia Amira Lestari
SMA CITRA BANGSA
3
Fazi Ridwanilham
SMA GLOBAL JAYA

 “HAH? Peringkat 2? Serius itu pak?” ujar Ami tak percaya
“Subhanallah, kamu luar biasa, Nak! Padahal persiapan kita relatif singkat, tidak seperti sekolah lainnya..”
“Ya Allah terima kasih banyak ya Allah, Engkau kabulkan doaku..”
Ami memang berbakat untuk mata pelajaran Astronomi ini, hanya bermodalkan minat dan kemauan yang keras untuk belajar ia dapat mencapai keinginannya, bahkan diluar dugaannya ia mendapat peringkat 2, ini berkat  keyakinan dan kepercayaan dirinya yang kuat meskipun peserta-peserta lainnya terlihat meyakinkan.
“Aku mau mempersembahkan piala ini untuk kedua orang uaku, dan sekolahku yang sangat kucintai..” ujarnya bahagia.
“Neng.. neng.. bangun neng..”
“Hmm? Eeeh ibuu, aduh maaf bu maaf saya ketiduran disini..” ucapnya kaget karena suara ibu penjaga perpustakaan membangunkannya
“Yaudah gapapa neng. Eneng ngga pulang? Perpustakaan mau ditutup nih neng..”
“Oh iya ini saya mau pulang bu.. makasih ya bu..”
“Iya neng sama-sama..”

“YAH, TERNYATA CUMA MIMPI!.” Ujar Ami kesal. 

 dibuat oleh : Arini Maulidia